Liputan6.com, Jakarta Ruben Amorim berdiri di tengah Blundell Park dengan wajah muram. Sorak-sorai ratusan suporter Grimsby Town menyambutnya dengan yel-yel "Sacked in the morning", usai Manchester United ditundukkan tim kasta keempat Inggris tersebut lewat adu penalti.
Ini adalah sejarah kelam bagi Setan Merah. Untuk pertama kalinya, mereka tersingkir dari kompetisi piala oleh tim divisi empat, dengan skor imbang 2-2 lalu kalah 11-12 dalam drama tendangan penalti.
Dalam konferensi pers usai laga, Amorim tidak menyembunyikan kekecewaannya. Pelatih asal Portugal itu memberikan pernyataan yang diinterpretasikan sebagai sinyal kuat akan masa depannya di klub.
Dia bahkan menyiratkan bahwa keputusan penting mungkin diambil selama jeda internasional minggu depan, membuka spekulasi mengenai posisinya yang mulai goyah.
Masa Depan Amorim di Ujung Tanduk
Kekalahan memalukan dari Grimsby Town menjadi pukulan telak bagi Amorim. Kepada ITV, ia mengucapkan kata-kata yang mengguncang:
"Saya pikir pemain menunjukkan dengan sangat keras tentang apa yang mereka inginkan hari ini. Sesuatu harus berubah, dan kita tidak akan mengganti 22 pemain lagi."
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ada waktu untuk memutuskan berbagai hal, merujuk pada jeda internasional yang akan datang. Periode ini dinilai sebagai momen krusial untuk mengevaluasi banyak hal, termasuk posisinya sendiri.
Laga melawan Burnley di Old Trafford pada Sabtu menjadi tugas berat berikutnya. Setelah itu, jeda internasional selama dua minggu akan menjadi fase penentuan, sebelum MU menghadapi Manchester City dalam derbi pada 14 September.
Struktur kepemimpinan baru MU di bawah Omar Berrada dan Jason Wilcox kini menghadapi ujian pertama mereka. Reputasi mereka terikat dengan keputusan mengenai Amorim ke depannya.
Penampilan Memalukan dan Kekecewaan Amorim
Amorim tidak mencari kambing hitam. Ia secara blak-blakan menyatakan bahwa kekalahan ini bukan kesalahan individu seperti kiper Andre Onana, meski dua gol Grimsby bersumber dari blunder sang penjaga gawang.
"Ini tim divisi empat, Andre seharusnya hanya bermain dengan kakinya selama pertandingan ini," tukasnya. Namun, ia menekankan bahwa masalah utama adalah mentalitas tim yang tampil tanpa intensitas dan tekanan sejak menit awal.
MU tampak limbung menghadapi pressing Grimsby. Bahkan, tim yang tidak diperkuat skuad utama itu sempat unggul 2-0 sebelum MU bangkit di akhir babak kedua untuk menyamakan kedudukan.
Amorim dengan tegas menyatakan bahwa hasil imbang dan drama adu penalti itu tidaklah penting. Baginya, performa buruk selama 90 menit adalah "tanda" yang paling berbicara, dan kemenangan pun akan terasa tidak adil bagi lawan.
Dampak bagi Pemain dan Rekrutan Anyar
Malam buruk ini juga menyoroti performa beberapa rekrutan anyar. Patrick Dorgu dan Manuel Ugarte ditarik pada babak pertama, sementara Joshua Zirkzee hanya bermain delapan menit karena masih dalam pemulihan cedera.
Bryan Mbeumo, yang mencetak gol penyama kedudukan, justru gagal menjalankan tugasnya dalam adu penalti. Tendangannya yang membentur mistar akhirnya menjadi penentu kekalahan MU.
Leny Yoro beruntung tidak terlibat dalam pertandingan ini. Sementara itu, kehadiran Kobbie Mainoo selama 120 menit menjadi bahan perbincangan mengingat posisinya yang tengah tersisih di skuad utama.
Kekalahan ini bukan sekadar angka, tetapi pukulan mental. MU kembali menjadi bahan olok-olok, dan tanggung jawab besar berada di pundak Amorim dan jajaran direksi untuk segera mencari solusi sebelum krisis semakin dalam.